Rubrik

Starting Point

Masjid itu bukanlah tujuan akhir, tapi awal dari kerja untuk membangun peradaban.

Karena masjid adalah awal, starting point, titik nol sebuah kerja, maka masjid harus bertumbuh. Maka, masjid harus terus bergerak dan menggerakan. Maka, masjid jangan berhenti pada fase “sebagai tempat ibadah shalat” belaka.

Masjid harus bisa melanjutkan kerja selanjutnya. Salah satunya adalah sebagai pemantik/ pemicu kemajuan masyarakat. Kemajuan dalam segala bidang. Baik dalam ilmu pengetahuan, dalam bidang sosial, maupun dalam bidang ekonomi.

“Masjid harus bisa MAKMUR DAN MEMAKMURKAN!”, hatur Gurunda Syahid Fisabilillah, Presiden Masjid Kurir Langit, Barru Sulsel.

Kemajuan itu akan terjadi secara natural dengan membangun 3 fondasi dasar, yaitu baitullah, baitulmaal dan baitulmuamalah.

Pengembangan baitullah dilakukan dengan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pendidikan, pusat praktik ajaran Dienulislam berbasikan Quran dan Sunnah. Pengembangan fondasi baitullah diupayakan pula dengan mengajak ormas (orang masjid) untuk melakukan amal sholeh secara berjamaah.

Agar kita dapat membangun baitullah, maka masjid harus dapat menjadi “Sahabat Manusia”. Masjid harus ramah dengan siapa saja.

“Masjid harus ROMMANTIS, ramah dengan Orang Muda, ramah dengan Musafir, ramah dengan Anak-anak, ramah dengan Tetangga Sekitar”, demikian hatur Gurunda Ustaz Luqmanulhakim salah satu coach Pelatihan Nasional Masjid Billionaire.

Dalam membangun kehidupan berjamaah, pengurus juga harus memahami pentingnya kepemimpinan. Gurunda Rendy Saputra, salah satu coach di Pelatihan Nasional Masjid Billionaire pernah menyampaikan kepada peserta pelatihan bahwa kita harus bisa membedakan antara gerombolan dan jamaah. Perbedaannya adalah pada tegaknya kepemimpinan.

Menurut Gurunda Rendy Saputra, Orang banyak tanpa pemimpin yang ditaati adalah gerombolan. Allah dan Rasulullah memerintahkan kita untuk hidup berjamaah, bukan hidup bergerombol. Gerombolan itu orangnya jamak tapi mikir dan bergerak sendiri-sendiri. Bergerombol itu banyak orang tapi tak ada pemimpin yang disepakati dan ditaati.

“Berbeda dengan berjamaah. Berjamaah itu orangnya jamak (banyak), dan harus ada pemimpin yang disepakati dan ditaati. Persis seperti pelaksanaan shalat berjamaah di Masjid”, Demikian hatur Gurunda Rendy Saputra.

Ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button