Rubrik

Mari kita berhitung

Bagi para pengelola panti asuhan dan pondok pesantren, beras adalah kebutuhan pokok yang harus dibeli. Tidak ada beras maka anak-anak yatim dan santri tidak bisa makan. Jika tidak bisa makan, bagaimana mereka bisa beraktivitas, bagaimana mereka bisa belajar dan menghafal Al Quran.

Sementara, bagi para pengelola panti asuhan dan para pimpinan pondok pesantren,  pengadaan beras untuk makan anak yatim dan para santri itu memerlukan biaya yang sangat besar.

Mari kita hitung bersama!

Jika sebuah pondok memiliki 100 santri, sementara kebutuhan makan 0,5 kg per hari, maka selama satu bulan diperlukan 0,5 kg x 30 atau 15 kg beras/ bulan per santri.

Jika harga beras kualitas medium Rp 12.000/ kg. Maka uang yang harus disediakan oleh para kyai dan pengurus panti asuhan untuk membeli beras tiap bulannya adalah sebesar 100 orang santri x 15 kg x Rp 12.000.

Jumlahnya adalah Rp 18.000.000. Sementara jika sebuah pondok pesantren memiliki 200 orang santri yang mondok, biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 36 juta. Sungguh bukan biaya yang kecil.

Oleh karena itu, banyak pengelola panti asuhan dan para kyai yang pusing tujuh keliling setiap bulannya, karena harus mencari uang untuk membeli beras agar asuhannya dan para santrinya bisa makan. Ada juga hal yang lebih memsuingkan lagi bagi panti asuhan dan pondok pesantren yang sama sekali tidak menarik biaya pendidikan bagi santrinya.

Makanya, pondok pesantren dan panti asuhan yang telah menerima bantuan beras dari para pengurus GIB merasa seperti mendapatkan beras dari langit. Persoalan yang setiap bulan menekan mereka terpecahkan sudah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button