Rubrik

Fenomena ala Gontor : Santri

Niat dan orientasi mengabdi kepada Allah SWT itu dijaga oleh rencana pengembangan dan tata pengaturan yang sangat detail sehingga secara jangka panjang dapat menjaga seluruh stakeholder (pimpinan, pengelola, pengajar, siswa, lembaga-lembaga pendukung lainnya) dapat mempertahankan niat dan orientasi tersebut.

Berbasis niat dan orientasi yang murni 100% mengabdi kepada Allah SWT tersebut, Pondok yang berdiri pada tahun 1926 ini  ternyata mampu menggerakkan seluruh stakeholder hingga dapat berjalan bersama-sama, bahu-membahu bahkan mengorbankan harta, benda, dan tenaga demi kemajuan pembangunan Pondok.

Tidak heran dalam waktu yang tidak terlalu lama Pondok Pesantren Darussalam mampu menjadi instrumen perjuangan umat, pusat pengembangan peradaban, dan pencetak generasi Islami yang memiliki kualitas keimanan, ketakwaan, intelektual dan kepribadian yang adiluhung.

Selama 2 hari berinteraksi dan mempelajari serba sedikit tentang Pondok tersebut terdapat  begitu banyak fenomena menarik yang mampu meningkatkan keyakinan kita tentang betapa agungnya ajaran Islam. Beberapa fenomena tidak biasa yang mampu diungkapkansepanjang ‘perjalanan spiritual’ itu antara lain:

1.   Hasil Peserta didik yang Adiluhung

Saat sampai di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, rombongan dijemput oleh dua orang santri PM Darussalam. Mereka berdua adalah santri yang pernah diasuh oleh Ustadz. Luqmanulhakim dan telah menamatkan studi setingkat sarjana.

Sepanjang jalan Yogyakarta-Gontor yang memakan waktu sekitar 6 jam, kami terlibat diskusi. Temanya beraneka ragam, dan kemampuan dua orang santri ini sungguh luar biasa. Mereka mampu melakukan analisis terhadap fenomena dalam berbagai bidang. Baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

Mereka juga punya keberanian dalam mengemukakan pendapat, lengkap dengan argumentasi yang berasal dari teori dan pendapat para pakar dengan sangat baik. Mereka juga tidak pernah melemparkan statement negatif yang dapat mereduksi semangat dan motivasi lawan bicaranya. Setiap pemikiran yang keluar dari bibir kedua santri tersebut selalu diiringi sikap yang antusias dan penuh semangat.

Gagasannya lebih bernas, statementnya runtut, jelas dan mudah dipahami. Fenomena kedua intelektual muda ini tidak akan bisa kita temukan saat berjumpa dengan mahasiswa jebolan kampus-kampus negeri.  Cakrawala pengetahuannya bahkan lebih luas dibandingkan mahasiswa S2 dari perguruan tinggi negeri atau swasta.

Kedua santri ini begitu sempurna sebagai seorang intelektual. Haus pengetahuan, serta memiliki etika yang baik saat bertukar pendapat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button