Satu juz itu lalu dicicil. Setiap selesai melaksanakan shalat fardlu, seluruh S.P.A diwajibkan membaca 2 lembar. Totalnya 4 halaman. Jadi 4 halaman dikalikan 5 waktu shalat, setara dengan 1 Juz.

Saya sami’ na wa ato’ na dengan perintah itu. Demikian pula dengan 300 S.P.A yang mengelola amal sholeh berbasis masjid di Masjid Kapal Munzalan.

Dan sampai sekarang, sekitar 5 bulan ini…tradisi ini sudah berjalan dengan lancar jiwa. Alhamdulillah tabarakallah.

Namun saat awal-instruksi itu diberikan, sisa-sisa otak liberal saja sempat mengkritisi kebijakan ini. Saya merasa berat.

Bayangkan…sehari 1 juz. Sebuah amalan yang tak pernah saya lakukan sepanjang sejarah intelektual saya. Jangankan Alquran, membaca buku novel atau buku sejarah/ pemikiran saja saya tak bisa menyelesaikan 20 halaman sehari. Apalagi Alquraan yang saat dibaca saya tak tahu artinya. haha merasa konyol!

Maka dulu, di suatu waktu, saya memberanikan bertanya kepada Ustaz Luqmanulhakim, ikhwal perintah beliau itu.

“Mohon maaf, Pak Yayi. Ga kebanyakan apa sahabat-sahabat S.P.A ini jika diwajibkan membaca sehari 1 juz? 20 halaman lho, Pak Yayi”.

Begitu tanya saya kepada beliau. Ustaz Luqmanulhakim senyum-senyum mendengar pertanyaan saya. Tak lama, beliau menjawab begini:

“Iya cukup banyak. Tapi temen-temen harus kita paksa untuk masuk Surga, Bung Ben!”

“Dipaksa masuk surga?”, tanya saya pelan.

“Iya. Dipaksa masuk surga! Sekarang ini, banyak orang yang memaksa kita untuk masuk neraka. Untuk berbuat jahat. Untuk berbuat dholim. Macam-macam paksaan yang dilakukan. Coba lihat berapa jumlah pecandu narkoba di negeri kita juga pecandu game online. Belum lagi organisasi kejahatan yang merekrut secara paksa orang-orang untuk berbuat bathil. Mereka saja berani memaksa orang untuk masuk neraka. Masak kita tak berani memaksa sahabat-sahabat kita untuk masuk surga?”

Demikian jawaban Gurunda Ustaz Luqmanulhakim.

“Masyaallah!”, respon saya singkat.

Saya terhenyak dengan jawaban ini. Dalam hati saya berkata, “Yessss sepakat, Pak Yayi! Siap. Jawaban yang keren. Jawaban yang super logis. Sangat sasional. Sangat kontekstual”.

Hahaa, tapi perkataan itu saya ucapkan di dalam hati saja.

Setelah itu, saya membaca Alquraan setiap habis sholat fardlu dengan suara yang lebih gegap gempithaaaa. sudah berbulan-bulan. Sampai sekarang.

Saya mau! Saya mau dipaksa!

Dan sekarang saya sudah mulai “ga perlu” dipaksa lagi. Lets Going to Jannah!

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News