Rubrik

Bank Lintah atau Bank Kambing?

Jika kita adalah pengurus masjid serta masjid kita memiliki saldo sebesar 5 juta, kira-kira akan kita kemanakan uang itu?

Menyimpannya di Bank Lintah atau mengelolanya untuk Bang Kambing?

Mari kita hitung-hitungan…

Jika kita memutuskan untuk menyimpannya di Bank Lintah, maka dalam dua tahun, uang kita akan bertambah 600 ribu saja, dengan asumsi kita mendapatkan bunga dari Bank Lintah sebesar 6% setahun atau sebesar 300 ribu per tahun. Kalau dikalikan dua jadi 600 ribu.

Uang sebesar itu belum dikurangi biaya administrasi dan pengurangan nilai uang akibat inflasi sebesar 10% pertahun. Tapi ok, anggap saja tak ada inflasi. Jadi uang 5 juta kita bertambah 600 ribu dalam 2 tahun.

Sementara, jika uang sebesar 5 juta itu kita belikan kambing, maka kita akan dapat sepasang. Seekor kambing betina biasanya melahirkan 2 kali dalam setahun, masing-masing dua ekor. Maka dalam 2 tahun, kambing kita akan bertambah menjadi 8 ekor.

Jika pada tahun kedua kita menjual 8 ekor kambing itu dengan harga yang sama dengan kambing yang kita beli sebelumnya, maka uang yang akan kita peroleh sama dengan 20 juta.

Sekarang kita sudah mendapatkan perbandingannya. Bahwa uang 5 juta yang kita simpan di Bank Lintah hanya bertambah sebesar 600 ribu saja dalam dua tahun. Sementara jika uang yang sama kita belikan Bang kambing, maka uang kita akan akan bertambah sebesar 20 juta. Uang itu berasal dari 8 ekor kambing x 2,5 juta.

Jadi kalau kita menjadi pengurus masjid, pilih yang mana? Menyimpan uang di Bang Lintah, atau mengalokasikannya untuk Bang Kambing?

Memilih mendapatkan tambahan uang sebesar 600 ribu atau 20 juta?

Jika kita berpikir normal, tentu kita tak akan menyimpan uang ummat berlama-lama di Bang Lintah bukan?

Cara berpikir inilah yang mungkin digunakan oleh Rasulullah saat menerima harta rampasan perang dari perang Badar. Ada 600an ekor unta, 200an ekor kuda, serta ribuan peralatan perang yang terbuat dari perak dan perunggu.

Rasulullah yang saat itu juga menjabat sebagai “Ketua Pengurus Masjid” kemudian memerintahkan para sahabat untuk membentuk Baitulmaal. Pengurus Baitulmaal kemudian diperintahkan oleh Rasulullah untuk membagikan harta itu kepada ummat dalam waktu 3 hari.

Rasulullah tidak menyimpannya, menahannya, apalagi menumpuk-numpuknya. Seluruh harta yang bernilai milyaran itu harus dibagikan habis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!

Perintah Rasulullah ini kemudian dijadikan dasar oleh para Khalifah paska wafatnya Rasulullah dalam mengelola dana ummat di baitulmaal. Baik dalam bentuk zakat, infaq, sedekah dan waqaf. Seluruh dana ummat yang terkumpul tak boleh disimpan atau ditahan berlama-lama. Semuanya harus habis didistribusikan.

Beberapa masjid di Indonesia seperti Masjid Jogokaryan Jogja, Masjid Al Falah Sragen, Masjid Kapal Munzalan, Masjid Kurir Langit Sulawesi Selatan, juga telah menjadikan perintah Rasulullah ini sebagai prinsip untuk mengelola dana ummat dalam bentuk zakat, infaq, dan sedekah.

Di Masjid-masjid itu, keuangan masjid tak pernah ada sisanya. Karena telah habis didistribusikan. Ada yang dialokasikan untuk pengurus masjid, ada yang untuk membayar beban biaya masjid, ada pula yang dikembalikan ke umat dalam bentuk program pendidikan, pengembangan keterampilan, atau bantuan sosial.

Jika masih tersisa, dana itu biasanya disalurkan ke program amal usaha produktif yang bisa menambah pemasukan.

Dan yang menarik, masjid-masjid yang tak pernah punya sisa saldo itu, justru tak pernah kehabisan dana. Padahal program kerjanya seabrek-abrek. Padat merayap! Masyaallah tabarakallah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button