Dengan demikian fungsi baitulmaal di era rasulullah dan para sahabat itu jauh berbeda dengan fungsi sebuah bank di era modern. Tak ada aktivitas simpan pinjam, apalagi simpan pinjam dengan jaminan dan dengan biaya jasa peminjaman uang berbasis bunga (riba). Fungsi baitulmaal saat itu sangat sederhana, kumpulkan, catat, bagikan.

Fungsi baitulmaal yang seperti itu tentu juga jauh berbeda dengan fungsi baitulmaal wa tamwil (BMT) yang mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun 80an dan semakin populer pada tahun 90an.

BMT yang kita kenal saat ini lebih tepat disebut dengan lembaga keuangan mikro yang aktivitas utamanya didominasi oleh aktivitas simpan-pinjam. Fungsi utama BMT ini sama persis dengan lembaga keuangan perbankan komersial pada umumnya, yaitu meminjamkan uang yang disimpan dari masyarakat kepada orang lain, dengan imbalan jasa dengan perhitungan tertentu.

Dengan demikian, Baitulmaal wa Tamwil (BMT) yang kita kenal saat ini tak sama dengan Baitulmaal yang telah dipraktikkan oleh Rasululllah dan para Sahabat. Atau bisa dikatakan bahwa BMT yang ada saat ini adalah Baitulmaal hasil modifikasi. Bukan Baitumaal yang original.

Pada bulan November 2014, Masjid Kapal Munzalan merintis berdirinya Baitulmaal original. Baitulmaal yang didirikan itu hanya menjalankan 3 fungsi utama sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah, yaitu mengumpulkan, mencatat, dan dan membagikan. Nama baitulmaalnya saat itu adalah Baitulmaal Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin, disingkat Baitumaal PMMAY.

Pada tahun 2017, Nama Baitulmaal PMMAY ini kemudian dirubah menjadi Baitulmaal Munzalan Indonesia. Di singkat BMI.

Untuk mengelola baitulmaal ini, Pimpinan Masjid Kapal Munzalan/ Pimpinan Pondok Modern Munzalan menugaskan Abangnda Larisindo sebagai Direkturnya. Abangnda Larisindo adalah salah satu Pimpinan di Masjid Kapal Munzalan/ PMMAY.

Pada tahun 2018, seiring dengan perkembangan lembaga baitumaal, Pimpinan mengangkat Abangnda Imam Muttaqien sebagai Direktur BMI untuk menggantikan Abangnda Adi Pratama Larisindo. Abangnda Imam Muttaqien kemudian menjabat sebagai Direktur BMI Pusat, hingga saat ini.

Salah satu amanah yang dititipkan oleh Pimpinan kepada Abangnda Imam Muttaqien adalah membangun sistem pengelolaan yang akuntable dengan tetap mempertahankan keoriginalan Baitulmaal sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabat, yaitu sebuah baitulmaal yang no tamwil.

Biidznillah, Abangnda Imam Muttaqien berhasil mengemban amanah itu. Pengelolaan BMI menjadi semakin baik lalu berkembang dengan pesat.

Saat ini, BMI bahkan telah membuka cabang di 11 titik di Indonesia. Sementara belasan titik lagi sedang dalam proses persiapan. Tabarakallah.

Pada bulan September tahun 2020, BMI mencatatkan “omzet” sekitar tujuh miliar-an. Omzet itu berasal dari pengumpulan zakat, infak, sedekah dan waqaf.

Dalam praktik pengelolaan Baitulmaal original, omzet itu sama dengan “keuntungan” karena memang tak ada aktivitas komersial-transaksional di dalamnya. Apa yang didapat langsung dibagikan, tanpa diolah terlebih dahulu, kecuali harta waqaf dan sebagian harta yang memang telah diakadkan untuk diolah.

“Keuntungan” itu harus habis didistribusikan dengan cepat dan cermat kepada pihak yang berhak. Begitu prinsip utamanya.

Dengan demikian, jika omzet BMI sebesar tujuh milyar, maka sejatinya “keuntungan” BMI adalah tujuh milyar, dan dana yang harus habis didistribusikan kepada masayarakat adalah sebesar erpe tujuh miliar pula.

Omzet 7 M, untung 7 M, dibagikan kepada umat 7 M. Begitu kira-kira praktek Baitulmaal Original ala Rasulullah yang diterapkan oleh BMI. Praktik pengelolan lembaga di BMI tentu jauh berbeda dengan lembaga keuangan komersial.

Sebuah lembaga keuangan komersial yang punya omzet 7 M, mungkin hanya mampu membukukan keuntungan sebesar 700 juta. Dari keuntungan itu, yang ikhlas untuk dibagikan gratis kepada umat, paling banter 70 juta saja.

Bandingkan dengan sistem operasi Baitulmaal Original yang dibangun oleh Rasulullah!

Mana yang lebih hebat?

Ya hebat Rasulullah lhaaaa!

Ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News