Orang Baik

Tangan-tangan Sakti

Kalau ditawari hidup yang bahagia, lengkap dengan rasa tenang, rezeki banyak dan urusan selalu lancar, mau tidak? Tapi tau enggak sih Abang-Kakak bagaimana caranya untuk mendapatkan itu semua?

Kadang hal luar biasa yang bisa didapatkan sekaligus seperti itu tampaknya mustahil. Tapi tidak jika kita berusaha untuk cari muka dengan Allah. Sebanyak-banyaknya. Sesering-seringnya. Karena untuk bisa mendapatkan semuanya, kita harus minta pada Yang Maha Punya. Jika sudah mendapatkan cinta-Nya, dapatlah segala yang diminta.

Masjid Kapal Munzalan sendiri memiliki kegiatan khusus untuk terus mendapatkan cintanya Allah, yaitu Gerakan Infaq Beras yang mana memberikan beras untuk adik-adik di panti asuhan dan pondok pesantren. Beras yang dipikul adalah beras terbaik dari orang baik untuk orang baik. Dari usaha inilah semua orang yang berkontribusi meraih cintanya Allah.

Salah satu yang merasakan cinta Allah yang luar biasa adalah seorang santri Masjid Kapal Munzalan, sebut saja beliau Abang. Bermula di bulan Oktober tahun 2019, Abang mendaftarkan diri sebagai driver untuk mengantarkan beras. Jauh sebelumnya, dia pernah berdoa agar suatu saat bisa mengendarai mobil Masjid Kapal Munzalan yang pernah dia lihat.

Abang berharap begitu karena yakin kalau mobil istimewa ini pasti sering mengunjungi banyak panti asuhan dan pondok pesantren. Alhamdulillah, di tahun 2019 doanya terkabul dan sejak awal Abang bergabung, dia dan teman-temannya sudah mendistribusikan sekitar 80 ton beras. Alasan Abang sangat sederhana namun mulia, dia merasa kalau panggilan hatinya bukan di bangku kuliah, tetapi di sini, memikul dan mengantar beras.

Kalau diibaratkan api, semangat Abang untuk mengantarkan beras sangat berkobar-kobar. Letih itu pasti, tapi jika keletihan itu dibawa ke jalan Allah dengan apa yang Abang lakukan, semua terbayarkan ketika sampai di lokasinya. Anak-anak sangat ceria saat menyambut Abang dan teman-temannya datang. Bahkan yang membuatnya selalu terharu adalah bagaimana mereka mencium tangannya bolak-balik, “udah kayak habib dibuatnye” ujar Abang.

Jalannya tidak selalu mudah, kadang penuh lumpur dan berpotensi amblas. Mobil yang dibawanya pernah terperosok ke parit dan hampir hanyut karena airnya sangat deras, tapi hal itu tidak mematahkan semangat Abang karena momen pengantaran beras paling ekstrem adalah favoritnya. Semakin ekstrem, semakin tertantang.

Berbicara tentang momen, terlalu banyak hal yang sulit terdeskripsikan oleh kata. Tapi, ada satu sosok yang selalu diingat oleh Abang. Dia adalah seorang ustadz pondok pesantren di Sungai Kupang yang area jalannya terjal dan berbatu tajam. “Kyainya baek sekali. Kalau ada tamu, selalu dijamu. Bukan dalam artian kita mengharapkan itu, tetapi dari sikapnye itu sangat respect dan sangat welcome sekali. Diajarkan banyak ilmu dan amalan yang saye belum tau. Pernah waktu bulan puasa, saya pulang jam 3 (subuh), dan dia itu ustadz yang paling berkesan di hati saye. kalau pondok lain, ya, normal kayak biase, tapi di pondok inilah Abang merasa duduk sehati dengan ustadz,” ucap Abang.

Abang sangat merasa sekali cinta-Nya Allah. Keberkahan dari Allah atas wasilah dari para ustadz yang didapatkannyalah yang membuatnya istiqomah di jalan ini. Banyak sekali doanya yang dikabulkan Allah, salah satunya adalah keberkahan atas kehamilan istrinya.

Kalau ditanya, apa yang membuat tangan-tangan itu sakti, jawabannya adalah karena tangan itu digerakkan untuk menyantuni serta membahagiakan anak panti dan para santri. Tangan itulah yang akan membuat Abang bisa berkumpul bersama Rasulullah bagaikan dua jari yang rapat di surganya Allah nanti. Tangan itu tangan sakti karena Allah selalu meridhoi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button