Orang Baik

Hati yang Hampa

Semua orang memiliki masa lalu yang sebenarnya ingin diubah jika memiliki mesin waktu, memang penyesalan selalu datang diakhir. Namun bukan berarti pada saat semua sudah terjadi kita hanya bisa pasrah dan tidak memperbaiki diri. Bukankah Allah menyukai para pendosa yang bertobat dengan sesungguhnya tobat dari pada orang alim yang munafik.

Hal ini juga seperti yang pernah dialami oleh salah satu santri yang sudah mengabdi di masjid Kapal Munzalan sejak 2017. Beliau awalnya merupakan seseorang yang seperti manusia umumnya yaitu tidak lepas dari dosa. Pada awalnya beliau seorang seniman yang menggunakan tubuh orang sebagai kanvasnnya.

Selama 1 tahun beliau hidup dengan jalan seniman, kemudian berbagai hal duniawi dia lakukan. Tidak jarang juga dia sering merasakan apa yang telah dia lakukan ini adalah bentuk kemaksiatan apalagi terasa jauh dari Allah. Namun setan masih membuatnya terpedaya dengan kehidupan duniawi. Setelah setahun dia kemudian mencari pekerjaan yang lain sekaligus untuk memperbaiki dirinya.

Kemudian dia mencari perkerjaan yang lain, dari satu kantor ke kantor yang lain dia berpindah-pindah demi mendapatkan ketenangan. Pada masa dia bekerja disalah satu kantor, dapat diakatakn untuk keuangan dia tidak mengalami kesulitan apapun tetapi dia merasakan ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan uangnnya.

Semakin lama semakin dia merasa tidak aman dan resah karena apa yang dia kerjakan selau berhubungan dengan riba’. Pada akhir tahun 2016 takdir berkata lain, Allah mengarahkan dia ke penjual es tebu yang ada di depan gang masjid Kapal Munzalan. Pada saat itu adzan Maghrib berkumandang dan tanpa sadar hatinya tergerak untuk melaksanakan sholat maghrib.

Setelah melaksanakan sholat dan beberapa kali mengikuti kajian yang ada pada waktu itu membuat hatinya semakin terpaut dengan masjid kapal Munzalan. Waktu demi waktu berlalu, membuat hatinya tidak sabar untuk selalu datang ke masjid Kapal Munzalan sehingga meskipun dia bekerja di jalan Jendral Urip saat dzuhur dia selalu ingin sholat di masjid Kapal Munzalan yang ada di jalan Sui.raya Dalam.

Baginya jarak sudah bukan masalah lagi tetapi ketenangan dan kepuasan dirilah yang menjadi diri. Apalagi dia sudah makin bisa mendekat kepada Allah, dan ini terus berlangsung hingga juli 2017. Dia memutuskan untuk hijrah secara total dan meninggalkan pekerjaan lamanya yang penuh dengan riba’.

Setelah hijrah total dan mengabdi di masjid Kapal Munzalan, kehidupannya lebih tenang dan dia juga menghasilkan banyak karya  dalam dunia media digital seperti video dan design grafis. Hingga sekarang dia masih mengabdi sebagai santri Masjid Kapal Munzalan dan sangat siap dalam memberikan kontribusi terbaik dalam jalan dakwah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button