Orang Baik

Dasi TOK YA (part 3)

Hasil rekomendasi itu kemudian disosialisasIkan secara bertahap ke segenap Santri Pemegang Amanah (SAP). Mulai dari level middle management dulu.

Ada 50an personil di level midle management yang harus dikumpulkan. Ada kepala sekolah, ada manajer unit pendidikan, ada manajer departemental, ada pula manajer unit usaha.

Semua personil di level middle management diundang dan diwajibkan hadir oleh Pimpinan/ Pengasuh. Selain diwajibkan hadir, seluruh personil pria juga diwajibkan menggunakan kopiah hitam, jas dan dasi.

Hari Senin pagi, saat acara akan dimulai. Seluruh undangan hadir dengan pakaian sesuai dengan intruksi.Setelah acara pembukaan, semua jajaran pimpinan diminta untuk berbicara. Temanya adalah mensosialisasikan agenda perbaikan tata pengelolaan Pondok hasil aktivitas mikir berjamaah.

Setelah saya, Gurunda Adi Prata Larisindo, giliran Tok Ya yang memberikan arahan. Nah, Ada yang menarik dari pengarahan yang disampaikan oleh Tok Ya pada pertemuan tersebut.

Setelah memuji nama Allah dan mengungkapkan rasa syukur, beliau berkata begini:

“Masyaallah, saya terharu sekali dengan pesatnya kemajuan pondok kita. Salah satu penyebabnya adalah karena berkah taatnya kita pada pimpinan. Ketaatan pada pimpinan ini ternyata membawa manfaat yang besar bagi kemajuan dakwah kita. “Oleh karena itu, saya berharap ketaatan itu harus kita pertahanan terus”, hatur Tok Ya.

“Maka, bagi Abang Kakak yang hadir di sini dan sudah kenal lama dengan saya, mungkin merasa aneh melihat penampilan saya pada hari ini. Hari ini saya menggunakan dasi. Perlu saya beritahu bahwa selama ini saya tak pernah menggunakan dasi sama sekali. Tak pernah! Tapi sekarang saya menggunakan dasi. Inilah dasi pertama yang saya gunakan”.

Tok Ya menjeda pidatonya. Matanya berkaca-kaca. Beliau ingin melanjutkan perkataannya. Tapi tak bisa keluar. Buah jakun ditenggorokan beliau bergerak turun naik. Setelah beberapa saat, Tok Ya berhasil melanjutkan pidatonya.

“Saya mau menggunakan dasi ini semata-mata demi mentaati perintah Pimpinan dan Pengasuh kita”, hatur Tok Ya.

“Tadi malam saya menerima undangan dari Pimpinan untuk hadir di acara ini dengan kewajiban mengenakan jas dan dasi. Saya harus taat dengan pimpinan dan pengasuh kita. Saya tak boleh membantah, walaupun sebenarnya saya berat untuk mengenakan dasi ini”, tambah Tok Ya.

“Kemajuan pesat aktivitas dakwah di pondok ini adalah berkah dari Allah. Salah satu asbab Allah berikan keberkahan ini adalah karena semakin tegaknya ketaatan kita semua kepada pimpinan. Nah, saya menggunakan dasi ini sebagai bukti bahwa saya, orang yang mungkin paling sepuh di Majelis ini, juga taat kepada pimpinan dan pengasuh kita. Bahwa saya juga juga akan selalu “sam’na wa atokna”, tambah Tok Ya.

Tok Ya menjeda pidatonya. Tak lama beliau melanjutkan lagi.

“Ingat ya, kita semua harus tetap sami’na wa atokna. Bukan sami’na wa ATOKYA!” tambah Tok Ya lagi sambil tersenyum.

Kami pun tertawa mendengar guyonan Tok Ya. Seluruh Pimpinan ikut tertawa. Hadirin juga ikut tertawa.

Yang sama sekali tak tampak tertawa hanya virus corona. Mungkin mereka mulai lelah menyebarkan ketakutan kepada umat manusia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button