Masjid Kapal Munzalan berdiri di tengah-tengah lingkungan masyarakat Tionghoa, tetapi tidak jarang warga sekitar menyebutnya dengan Masjid Kapal Serdam. Hal ini dikarenakan Masjid Kapal Munzalan juga memiliki masjid cabang di Jalan Ampera.

Masjid Kapal Munzalan dari awal berdiri hingga tahun 2017, persis di depan Masjid Kapal Munzalan ada rumah yang ditinggali keluarga Tionghoa.

Pemilik rumah itu juga memelihara seekor anjing, sehinga para jamaah masjid sudah terbiasa mendengarkan gonggongan anjing saat melaksanakan sholat berjamaah atau mengikuti forum pengajian. Suara gonggongan itu terdengar sangat jelas, karena jarak antara masjid dengan pekarangan rumah pemilik anjing tersebut memang sangat dekat, hanya sekitar 5 meteran saja.

Namun, baik pihak masjid maupun jamaah tidak pernah protes dengan keluarga pemilik anjing tersebut, dan keluarga pemilik anjing tersebut juga tidak pernah protes dengan berbagai aktivitas yang diselenggarakan di sekitar masjid.

Sementara di bagian belakang, terdapat komplek perumahan, dimana hampir 100% adalah orang Tionghoa.

Dan hingga saat ini, alhamdulillah kami tidak pernah mendapatkan komplain dari komunitas masyarakat Tionghoa tersebut. Beberapa diantaranya justru senang dengan keberadaan Masjid Kapal Munzalan.

Mereka senang karena sering mendapatkan bingkisan dari Masjid Kapal Munzalan. Setiap hari Jumat, atas perintah Gurunda Ustadz Luqmanulhakim dan Gurunda H.M. Nur Hasan, para sahabat mengirimkan bingkisan berupa buah-buahan kepada penghuni komplek dan karyawan penjaga toko. Tidak heran jika mereka sangat akrab dengan nama “Masjid Kapal Munzalan”.

Ada sebuah kisah yang menarik terkait masyrakat Tionghoa dan Masjid Kapal Munzalan. Suatu ketika ada seorang jamaah dari luar kota ingin mengunjungi Masjid Kapal Munzalan, karena baru pertama kali, ia kesulitan mencari masjid kami. Orang tersebut yang kebingungan mampir ke sebuah toko milik orang Tionghoa yang terletidak tidak jauh dari Masjid kami. Terjadilah dialog antara pengunjung dan pemilik toko yang orang Tionghoa tersebut.

“Nya (nyonya, panggilan emak-emak orang Tionghoa), numpang tanya. Masjid Kapal Munzalan dimana ya?”

Si Nyonya pemilik toko itu tidak langsung menjawab. Ia tampak belum jelas benar mendengar pertanyaan si tamu.

“Apa?”, tanya si Nyoya

“Masjid Kapal Munzalan!” ulang si penanya.

“Haiyya, Masjid apa wa itu. Saya tidak pelnah dengal,” jawab Maknya.

“Masjid Kapal Munzalan, Masjid Munzalan Maknya. Yang bentuknya seperti kapal!”, jelas si Penanya.

Tidak lama, wajah si Maknya sumringah. Lalu menjawab pertanyaan tamu dari luar kota itu.

“Oooo, Masjid “Kapal Selam”. Haaa, tahu waaa. Abang telus aja hooo … nanti ada gang belok kili”, jawab si Maknya.

“Oya makasih. Maknya!”, jawab si penanya cekikikan dan bertanya dalam hati. “Hah, Masjid kapal selam? Memangnya empek-empek!”

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News