Keluarga Baik

Jangan Jadi Orang Tua Toxic

Kita sudah sering sekali membaca bahkan melihat langsung kejadian anak yang durhaka pada orang tua, dan mudah sekali menyadari keadian itu ada di sekitar kita. Tetapi, apakah kita pernah menyadari kalau orang tua juga bisa durhaka pada anak?

Lalu, pernah enggak sih abang dan kakak bertanya-tanya, “kok anak saya ga seperti anak orang, ya? Kalem, nurut, pintar.”. Kalau iya, hati-hati lho. Jika abang dan kakak terus membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain, bisa-bisa abang dan kakak terjebak dalam toxic behavior.

Abang dan kakak tau enggak artinya toxic behavior? Toxic behavior adalah karakter seseorang yang membawa pengaruh negatif. Nah, hal ini bisa membuat abang dan kakak terperangkap dalam toxic parenting.

Toxic parenting sendiri adalah ketika kita sebagai orang tua menuntut anak untuk menjadi “baik” versi kita, tetapi kita sendiri tidak memperbaiki diri. Tidak mendidik mereka apalagi memberikan kasih sayang. Memarahi mereka kalau berbuat kesalahan walau kecil padahal mereka memiliki keterbatasan pengetahuan, sedangkan maksiatnya kita jalan terus. Ada nih bahasa gaulnya, yaitu kita menjadi orang tua yang “manipulatif”. Selain itu, kalau abang dan kakak tidak memikirkan perasaan atau pendapat anak, serta tidak memandang anak sebagai individu dan membatasi ruang gerak, hal itu juga termasuk pola asuh yang toxic.

Rasulullah SAW sudah memberi kita warning nih. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa, “setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang mebuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.”.

Termasuklah kita dulu yang lahir dalam keadaan fitrah, dalam keadaan suci. Jika kita bingung mengapa anak kita tidak sekalem anak orang, mungkin yang perlu ditanyakan adalah diri sendiri, kebiasaan apa sih yang kita install pada anak yang menjadikan karakternya begitu? Apakah kebiasaan yang mencerminkan sifat kebaikan atau malah keburukan?

Dalam sisi psikologi, ketika kita berlaku toxic ke anak, berarti ada sisi anak kecil dalam diri kita yang pernah terluka dengan hal serupa. Makanya, tanpa sadar kita melakukan hal yang sama pada anak kita sendiri. Bagaimana bisa diri ini disebut sebagai orang tua tetapi tidak mencerminkan “orang tua”?

Sebagai orang tua, harusnya kita tidak menuntut anak, tetapi menjadi teladan bagi mereka. Caranya? Dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan berlaku baiklah. Keburukan itu menular, begitu pula dengan kebaikan. Jika kita sudah berusaha memperbaiki diri, maka anak pun dapat menjadikan kita sebagai role model, seorang teladan yang menyayanginya.

Abang dan kakak, kalau kita sudah menyadari bahwa hal ini bisa melukai si anak, mari kita perlahan memperbaiki diri dan memutus mata rantai agar anak kita tidak membawa rasa sakit yang kita sebabkan pada keturunannya kelak.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button