Keluarga Baik

Anak Juga Ingin Didengarkan: Penting atau Tidak?

Salah satu cara agar bisa memahami perkataan seseorang adalah dengan berkomunikasi. Komunikasi bisa terjalin dengan baik karena kedua pihak saling mendengarkan dan didengarkan dan akan menciptakan komunikasi dua arah, yaitu komunikasi yang sehat.

Apa yang Ayah dan Bunda rasakan ketika sedang mengeluarkan unek-unek, lalu didengarkan oleh orang lain, apalagi oleh orang terdekat? Pasti melegakan, ya? Nah, mendengarkan itu bukan hal yang mudah, apalagi kalau yang berbicara memiliki power atau kekuatan lebih, contohnya orang tua pada anak.

Saat yang berbicara pada kita adalah anak, sebagai orang tua kita condong menguasai obrolan. Inginnya langsung menasihati sang anak padahal mereka ingin juga berbicara. Pertanyaannya, bagaimana bisa nasihat kita didengarkan oleh anak jika kita saja tidak mendengarkan mereka? Hal ini tidak akan terjadi kalau kita hanya ingin didengarkan tanpa mendengarkan orang lain.

Anak yang tidak didengarkan oleh Ayah dan Bundanya akan merasa diabaikan dan kesepian karena kita tidak ada saat mereka butuh. Sebagai orang dewasa saja kita merasa sedih jika emosi kita tidak didengarkan dan dipahami, apalagi seorang anak yang masih sangat membutuhkan sosok Ayah dan Bunda di sisinya? Hal ini bisa membuat anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Kesehatan mental anak juga bisa terganggu jika terus diabaikan.

Ayah dan Bunda, banyak sekali manfaatnya kalau kita mendengarkan isi hati anak. Anak akan lebih percaya pada Ayah dan Bunda karena mereka merasa didengarkan. Ayah dan Bunda bisa melakukannya dengan mengajak anak berbicara dan memberikan mereka kesempatan untuk terbuka dahulu. Dengan menghadirkan diri secara fisik dan pikiran tanpa sibuk sendiri, anak akan sadar kalau dia memiliki sosok yang selalu ada untuknya. Cobalah untuk menempatkan diri di posisi anak juga, agar dia merasa dipahami. Bersabar dan tidak menyela ketika dia berbicara juga penting. Tidak hanya memahami ucapannya saja, tetapi kita perlu memahami bahasa tubuh anak, baik ekspresi bahagia, sedih, cemas maupun marah. Dengarkanlah mereka dengan rasa tertarik dan penasaran supaya mereka merasa dipedulikan.

Islam adalah agama cinta, jadi ketika sedang mendengarkan anak, dengarkanlah dengan penuh cinta juga. Jangan menghakimi apa yang anak coba sampaikan, entah baik ataupun buruk. Anak memiliki keterbatasan dalam berbahasa, apalagi mengolah emosi. Ingat, menjadi orang tua yang pengertian bagi anak itu sangatlah penting.

Kalau komunikasinya baik dan sehat, maka hubungan antara anak dan orang tua akan semakin erat. Komunikasi dengan penuh cinta akan membuat keluarga Ayah dan Bunda menjadi harmonis.

Jadi, kapan terakhir kali Ayah dan Bunda mendengarkan isi hati sang anak?

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button