Beberapa bulan setelah Masjid Kapal Serdam jadi, Gurunda H.M Nur Hasan menemui Gurunda Ustadz Luqmanulhakim. Tujuannya adalah mengajak Gurunda Ustadz Luqmanulhakim untuk berhijrah ke Masjid Kapal Serdam.

Singkat cerita, Gurunda Ustadz Luqmanulhakim kemudian menerima permintaan tersebut. Dan demi melaksanakan niat tersebut, Ustadz Luqmanulhakim bahkan bersedia memboyong keluarganya untuk tinggal di sekitar Masjid agar bisa lebih dekat dengan jamaah.

Selain memindahkan markas Yayasan Ashabul Yamiin Khatulistiwa yang mengelola program infaq beras, Gurunda Ustadz Luqmanulhakim  juga diminta oleh Gurunda H.M Nur Hasan untuk megasuh jamaah lewat pengajian rutin.

Saat itu tema kajian dan tausiah Ustadz Luqmanulhakim berkisar pada tiga tema. Pertama tentang keutamaan membaca dan menghafal Alquraan. Kedua tentang keutamaan melaksanakan sholat tepat waktu. Dan ketiga tentang keutamaan ber infaq.

Ketiga tema kajian itu lalu disingkat dengan ASI. Bukan Air Susu Ibu. Tapi Alquraan, Sholat, dan Infaq.

Setelah peristiwa waqaf diri dan deklarasi pendirian Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin, Gurunda Ustadz Luqmanulhakim meminta saya merancang logo pondok. Ketiga tema tausiyah Ustadz Luqmanulhakim itu diabadikan sebagai logo pondok dalam bentuk tiga buah kota belah ketupat.

 Ketiga tema tausiyah Ustadz Luqmanulhakim tersebut bukan sekedar ditingkat wacana saja, tapi menjadi amaliah wajib yang sangat ditekankan kepada para jamaah dan para penggiat dakwah. Dalam satu tahun tiga amaliah itu sudah merasuk menjadi tradisi pada segenap penggiat dakwah dan keluarga besar PMMAY.

Setelah menjadi suatu tradisi, saat itu hingga saat ini para sahabat akan merasa ada yang janggal jika satu hari tidak memegang Al-Qura’an. Para sahabat dakwah merasa tidak nyaman jika mendengar azan, namun tidak segera meranjak dari bangkunya untuk melaksanakan sholat. Bahkan para sahabat dakwah merasa aneh jika melewati aktivitas satu hari tanpa memberi sesuatu kepada orang lain, baik memasukan uang di kotak infaq, memberi uang pada pengemis, atau membayarkan kopi kawan-kawannya pada saat nongkrong di warkop.

Ketiga tema itu pula yang dijadikan amalan pokok dalam buku Kiat Lepas Dari Kemiskinan yang ditulis oleh Ustadz Luqmanulhakim dan diterbitkan pada bulan April 2015. Buku ini adalah buku pelengkap dari Buku Mustahil Miskin yang telah terbit sebelumnya.

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News