Ilmu Baik

Siapa Bilang Islam Melarang Marah?

Abang kakak, menjadi manusia itu bukan berarti harus tidak punya rasa marah sama sekali lho. Tetapi, menjadi manusia adalah bagaimana ketika emosi marah itu mampir, kita bisa mengolahnya menjadi marah yang baik, yaitu kalau marah pada tempatnya.

Sebenarnya marah itu apa? Marah adalah perasaan tidak senang ketika seseorang berlaku buruk pada kita. Akibat adanya rasa marah ini, timbullah gejolak yang datang dari setan untuk membalas hal buruk itu.

Kita sering mengartikan kalau marah itu mengeluarkan emosi. Padahal kalau nggak dikeluarkan, kita tetap bisa merasa marah. Bahkan banyak yang menyamakan emosi adalah marah. Padahal emosi itu adalah jenis perasaan dan marah adalah salah satu emosi dalam diri manusia. Emosi itu bisa berupa rasa sedih, kecewa, bahagia, bahkan malu. Jadi jangan keliru, ya.

Islam tidak melarang marah, akan tetapi meminta kita untuk bisa mengendalikannya. Mengapa? Agar kita sebagai manusia memiliki kontrol atas diri kita. Allah memberikan otak untuk berpikir dan hati untuk merasa, agar segala yang terjadi pada kita itu semakin mendekatkan diri ini pada-Nya. Jika kita tidak berhasil mengolah rasa marah, bukankah bisa menimbulkan perselisihan? Pertanyaannya, apakah Allah menyukai hal itu? Tentu tidak.

Mengontrol amarah bukan hal yang mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya. Tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk mencoba. Mencoba untuk menahan dan menyaring agar yang tersisa dari rasa marah adalah rasa bisa menerima, atau yang akrab disebut dengan keikhlasan. Gimana caranya?

Pertama, napas. Napas ini memberikan jeda bagi kita untuk berpikir, “Apakah benar ini salahnya? Atau benar ini memang salahku sehingga dia seperti itu?”. Jeda ini juga membantu kita untuk tidak cepat mengeluarkan perkataan yang menyakiti.

Kedua, jika kita tidak bisa menahan lalu terungkaplah rasa marah itu dari bibir kita, maka sampaikanlah apa yang perlu disampaikan, tidak dengan menghina dan jangan sampai berlanjut ke perbuatan.

Ketiga, ketika merasa badan ini ingin berbuat, cepatlah untuk berpindah posisi dari tempat kejadian dan berwudhulah karena marah itu datangnya dari setan yang tercipta dari api yang sangat panas.

Apakah abang kakak pernah melihat orang marah? Mata melotot dan wajah merah seram? Dari mana datangnya itu kalau bukan dari setan? Marah adalah nafsu. Jika kita bisa mengendalikannya, maka kita bisa mengendalikan nafsu. Kalau sudah begitu, mengontrol diri akan membawa kita kepada akhlak yang mulia.

Jadi, apakah kalau ada orang menghina kita lantas dibiarkan begitu saja? Tidak juga. Balaslah dengan penyelesaian yang baik. Kita tidak bisa memadamkan api dengan api. Suatu perkara tidak akan selesai jika dua pihak saling berteriak.

Rasulullah dan para sahabat tentu saja pernah marah dan meluapkannya, tapi mereka meluapkan itu atas dasar cinta dan karena Allah.

Rasulullah pernah bersabda, “janganlah kamu marah karena bagimu surga“. Hadits ini memiliki makna bahwa beliau mengajak kita untuk bisa menahan dan mengendalikan diri. Dikhawatirkan jika amarah menguasai, maka kita akan dikontrol dan diperintah oleh amarah untuk segala sesuatu.

Abang kakak, selama kita hidup di dunia, selama itu pula kita menemui banyak kesempatan untuk disakiti oleh manusia. Ini hal pasti, dan kita tidak bisa menghindar. Maka, alangkah baiknya jika benar kita beriman pada-Nya dan rasul-Nya, kita bisa terus memperbaiki diri.

Mungkin kemarin kita adalah orang yang mudah tersulut amarahnya, maka hari ini kita sadar dan berusaha untuk tidak begitu lagi. Kita coba pelan-pelan. Bismillah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button