Masjid merupakan rumah Allah, dimana kita menumpahkan segala keluh kesah, gundah gulana dan permasalahan yang sedang kita hadapi, atau lebih mudahnya masjd adalah tmpat dimana kita bisa mendapatkan bantuan dari Allah. Namun sayang nya saat sekarang ini masjid hanya digunakan untuk beribadah sajat, tetapi tidak memberikan solusi bagi ummat. Masjid itu seharusnya digunakan untuk shalat, tarbiyah, musyawarah,  untuk melepas penat dan lelah.

Masjid yang bisa difungsikan untuk berbagai macam hal itu, oleh Gurunda H.Muhammad Nurhasan diistilahkan sebagai Masjid Multifungsi. Sebuah masjid yang tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk melaksanakan ibadah shalat saja. Tapi dapat difungsikan pula untuk berbagai hal yang beraneka.

Maka, secara perlahan kita harus berusaha mentransformasikan masjid, dari yang semula sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan shalat saja, lalu ditambah dengan tempat untuk melaksanakan tarbiyah (pendidikan dan penggerakkan). Itulah Baitullah.

Setelah jadi baitullah lalu apa?

Bangun fondasi yang kedua, yaitu baitulmaal, rumah harta. Rumah yang berfungsi untuk menampung harta umat lewat aktivitas ZISWAF; zakat, infaq dan sedekah, dan waqaf. Jika baitulmaalnya hidup, maka masjid akan bertransformasi menjadi pusat aktivitas sosial kemanusiaan dan kemaslahatan.

Maka akan berdatanganlah sumber daya manusia. Berkumpul di sekitar masjid, bergerak menghimpun energi dan menebarkannya kembali. Lalu akan terjadi pertukaran informasi dalam semangat persaudaraan yang dipandu oleh kebenaran yang haqiqi. Setelah itu, secara perlahan, masjid akan menjadi rumah untuk bermuamalah. Menjadi baitulmuamalah. Lalu, aktivitas ekonomi akan hidup secara natural.

Baitullah, baitulmaal, dan baitulmuamalah adalah 3 fondasi yang harus kita bangun. Tidak perlu terburu-buru dan berharap bisa terwujud dalam sekejap mata. Bangunlah secara transformatif, secara perlahan tapi istiqomah. Mulai dulu. Jalan dulu. Lalu diperkokoh secara sambil berjalan. Semakin kokoh fondasi yang kita bangun, maka akan semakin kokoh pula pilar-pilar peradaban yang akan kita tegakkan di atasnya.

jangan bekerja sendiri, tapi bekerjalah secara berjamaah. Berjamaah itu adalah kerja bersama secara terpimpin. Pemimpinnya diputuskan lewat kesepakatan. Persis seperti dalam penyelenggaraan shalat berjamaah. Ketika kita telah memutuskan siapa yang menjadi imam, maka yang jadi makmum harus ikut dengan apa yang diaba-abakan oleh imam/ pemimpinnya.

Lalu makmumnya harus percaya dengan imamnya, percaya bahwa sang imam bisa memberikan aba-aba dan tidak akan memberikan aba-aba yang salah dan menyesatkan. Dengarkan aba-aba sang imam, dan taatlah dengan aba-aba yang diserukan. Kalau imamnya melakukan kesalahan kecil, tak usah disalah-salahkan. Cukup dikasih tau saja. Kalau imamnya melakukan kesalahan besar lalu batal, makmum yang paling depan harus siap untuk menggantikan.

Sesederhana itulah ummat muslim membangun peradaban dunia. Selama ribuan tahun lamanya. Mulai dari Madinah 1400 tahun yang lalu hingga di berbagai pelosok nusantara yang jaraknya puluhan ribu kilometer jauhnya.

Ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News