Ilmu Baik

Kiai-Santri

Karena pesantren adalah komunitas pendidikan, maka hubungan kiai-santri di pesantren berada dalam batasan proses mencari ilmu, moral dan spiritual saja. Sementara hubungan imam-makmum pada saat pelaksanaan shalat berjamaah hanya berlaku dalam batasan pelaksanaan shalat berjamaah saat itu saja.

Dalam ekosistem keilmuan, kiai itu bukan bosnya santri. Dan seorang santri bukan pula hambanya kiai. Kiai dan santri itu sama-sama hambanya Allah. Keduanya sedang menjalankan peran sebagai hamba Allah dalam ibadah pengembangan ilmu pengetahuan, moral dan spiritual.

Dalam ruang kepesantrenan, para santri harus samikna wa atokna jika diperintah Sang Kiai. Tidak boleh membantah. Kalau membantah, maka peluang para santri untuk mendapatkan kebaikan sebanyak 27 kali lipat, akan hilang. Yang rugi bukan Kiainya, tapi santrinya.

Di Munzalan, saya adalah seorang santri. Kiai saya Ustadz Luqmanulhakim.

Sebagai seorang santri, saya harus patuh dengan kiai saya. Kalau tidak patuh, maka rusaklah ritual saya dalam menjalani kehidupan berjamaah, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengembangan kontribusi sosial. Saya tidak patuh, kiai saya tidak akan merasa rugi. Yang rugi itu saya.

Namun demikian, di pondok kami, dan di berbagai pondok yang ada di Indonesia, selalu saja ada santri yang tidak patuh. Diajak beraktivitas tidak mau, diajak ngaji malas. Biasanya para kiai menyikapinya dengan santai gontai.

Para kyai tetap saja mengajar, membimbing, menggerakan para santri. Para kiai itu tidak punya ambisi agar para para santri patuh dengan perintahnya. Karena sejatinya yang berkepentingan terhadap kesuksesan dalam mencari ilmu adalah para santri, bukanlah kiai. Persis seperti yang terjadi pada para makmum saat melaksanakan dalam shalat berjamaah.

Bagi yang tidak taat, resikonya ditanggung oleh para santri sendiri. Yang taat mendapatkan kabaikan atas ketaatannya, yang tidak taat akan mendapatkan balasan keburukan atas ketidaktaatannya.

Sementara kelak di akherat, semuanya juga akan mempertanggungjawabkan peran dan fungsinya sendiri-sendiri. Di aherat, sudah tidak ada imam lagi, dan sudah tidak ada makmum lagi. Juga tidak ada kiai, tidak ada pula santri. Semua sama.

Sama-sama sebagai seorang hamba Allah yang harus ikut antri menunggu panggilan hisab dari dua Malaikat di padang Mahsyar..Malaikat penggiring (saiq) dan Malaikat pemberi saksi (syahiid).

Ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button