Ilmu Baik

Jangan Hobi Hakimi Dirimu Sendiri

Mungkin abang kakak sudah tahu, kalau kita sebagai manusia tidak berhak untuk menghakimi seseorang, baik mereka orang asing atau yang kita kenal. Tapi bagaimana kalau menghakimi diri sendiri, apakah boleh? Secara, kita tidak akan menyakiti orang lain. Mungkin sah-sah saja kan?

Tapi, apa iya segalanya akan lebih baik jika kita menyalahkan diri kita? Apakah masalah yang kita hadapi terselesaikan dengan baik? Yup, jawabannya tidak.

Lalu, mengapa? Dan kok bisa ya kita menyalahkan diri sendiri?

Kita cenderung menyalahkan diri sendiri ketika kita berbuat kesalahan yang tidak diinginkan. Sesuatu itu terjadi karena tidak sesuai dengan ekspektasi. Harapan akan hal yang kita kerjakan berjalan mulus, tetapi kenyataan berkata sebaliknya.

Kuncinya ada di kata “sempurna”. Tanpa sadar kita menanamkan kesempurnaan atas apa yang sudah sangat kita usahakan. Rela begadang demi suksesnya projek dan demi hasil yang maksimal.

Manusia memang makhluk sempurna. Tapi kita lupa, tidak ada yang sempurna kecuali Allah Sang Maha Segalanya. Jika kita berpikir begitu, apakah kita akan hidup dengan tenang?

Abang kakak, menjadi makhluk yang diciptakan sempurna bukan berarti kita tidak boleh melakukan kesalahan bukan?

Hidup itu tidak menentu, kadang ringan dan kadang berat. Kalau sudah begitu, apakah kita masih mau membebani diri kita dengan tuntutan kesempurnaan yang Allah sendiri saja sudah sangat senang dengan usaha kita walau kecil yang penting selalu dilakukan itu?

Perasaan kecewa, sedih dan marah itu emosi yang alami kita rasakan kalau sesuatu yang tidak nyaman terjadi. Tetapi, beri batasan juga bahwa emosi itu cukup menjadi bahan evaluasi diri, dan bukan bahan menyalahi diri sendiri.

Jadi, apa yang harus dilakukan supaya tidak terjebak dalam lingkaran salah menyalahi itu?

Abang kakak bisa mulai dengan mengakui kalau kita pasti bisa melakukan kesalahan, dan itu hal yang normal.

Lalu, jika kesalahan sudah terjadi, cobalah untuk menerima bahwa kita salah dan jadikan kesalahan itu sebagai pemacu kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Kemudian, cobalah memaafkan diri kita. Dengan begitu, diri kita tidak dikuasai emosi negatif dan kita bisa berpikir lebih jernih.

Kita harus terus mengingat kalau kita ini manusia. Jadi, sudah sewajarnya kita memanusiakan diri kita. Kita bukanlah robot yang bisa mengerjakan sesuatu dengan sangat rapi. Bahkan, robot sendiri saja akan melakukan kesalahan jika mesinnya rusak.

Abang kakak, kalau kita bisa memaklumi kesalahan orang lain, maka cobalah untuk memaklumi diri sendiri ketika berbuat salah. Bersikap lembutlah pada diri, kita adalah rumah untuk hati kita.

Seperti yang dikatakan Imam Al Ghazali, “Menyayangi diri sendiri itu dengan meyelamatkan dirinya dari adzab Allah lewat menjauhi dosa, taubat, melakukan amal saleh dan ikhlas sebelum menyelamatkan orang lain.”

So, kalau bukan kita yang mengasihi diri kita sendiri, siapa lagi?

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button