Ilmu Baik

Jangan Halu

Siapa yang tidak mau jika keinginannya dikabulkan secepat kilat? Bahkan hal sekecil ingin makan pisang goreng crispy sekalipun?

Banyak dari kita yang sudah tahu kalau menginginkan sesuatu, usaha saja tidak cukup. Diperlukannya doa sebagai senjata paling ampuh karena seperti yang Allah katakan dalam quran surah Al-Ghofir ayat 60,

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Bedoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu… ‘. “

Tapi, akan selalu ada masa di mana kita sudah berdoa berbusa-busa, tetapi pertolongan Allah tidak muncul juga. Bekerja semalam suntuk, tetapi yang didapat hanya mata panda dan lelah saja. Tak jarang, lambatnya pengabulan doa ini membuat kita su’udzon kepada Allah. Mengeluh tiada henti dan berpikir Allah tega sekali. Setiap hari menyalahkan Allah, tetapi enggan mengoreksi diri.

Padahal, jika sudah cinta, jangankan rumah sepetak, mobil Lamborghini pun mudah sekali Allah beri. Tidak ada yang tidak bisa. Tidak ada yang tidak mungkin. Cinta Allah itu Maha Luas. Keinginan kita apa? Allah kabulkan.

Tapi, sudahkah kita mengecek apa yang bisa kita berikan ke Allah? Apa yang bisa membuat kita layak mendapatkan cintanya Allah?

Kalau diperhatikan, ketika kita sedang mengerjakan sesuatu, biasanya hanya untuk mendapatkan penilaian orang saja. Saat orang tua meminta tolong, masih entar-entaran. Waktu sedang hang out di warung kopi, hobinya bergunjing dan menghakimi sana sini. Al Quran hanya menjadi pajangan, dan hanya dibaca saat Kamis malam. Sholat sering telat, bahkan mepet 5 menit sebelum pergantian azan.

Lalu, dengan alasan apa Allah mau membanjiri kita dengan cinta-Nya? Mungkin tidak perlu sampai dibanjiri, tapi hal apa yang membuat Allah sudi? Bagaimana bisa Allah beri kalau kenyataannya kita hanya datang pada-Nya saat masa sulit?

Mungkin hal-hal remeh sesederhana memandang rendah orang lain, atau berkata “Ah!” pada orang tua adalah penyebab tertundanya cinta Allah tersambung pada kita. Mungkin itulah penyebab lama dikabulkannya doa. Kita hanya berfokus pada usaha-doa-usaha-doa, tetapi ternyata niat yang di hati berbeda, nyatanya kita tidak menjadikan Allah yang utama. Lambatnya dikabulkan membuat bibir kita berkeluh kesah, dan pada akhirnya menyalahi Yang Kuasa.

Kita mengaku sebagai hamba, tetapi apa yang kita jalankan kerap khilaf. Lucu sekali jika urusan dengan Allah sering telat, tapi inginnya doa dikabulkan cepat. Sebagai hamba, kita ini memang perlu ditegur, “Hei, kamu. Jangan halu!”.

Jadi, tidak peduli cepat atau lambatnya doa dikabulkan, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memprioritaskan Allah. Kita memang tidak sempurna, tapi jika memiliki niat kuat untuk berbenah diri walau pelan, Allah pasti datang. Ingatlah, jika kita datang pada-Nya dengan berjalan, maka Allah mendatangi kita dengan berlari (HR. Bukhari dan Muslim). Serta, jadikanlah Allah prioritas, maka Allah jadikan kita hamba prioritas pula.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button