Di Masjid Kapal Munzalan, Gurunda Ustaz Luqmanulhakim berperan sebagai Pengasuh. Kalau di Masjid Kapal Munzalan, Pengasuh itu posisinya kira-kira sama dengan posisi seorang top eksekutif. Istilah kerennya, Chief Eksekutif Officer. Disingkat CEO.

Nah dalam berbagai kesempatan, saya selalu menganjurkan kepada para sahabat saya untuk belajar kepemimpinan dengan Ustaz Luqmanulhakim. Alasannya, selain karena beliau memiliki cakrawala ilmu seluas samudra, beliau juga memiliki prestasi kepemimpinan yang menurut saya sulit dicari tandingannya saat ini.

Saya berikan sedikit ilustrasi tentang “kesaktian” Gurunda Ustaz Luqmanulhakim yang berperan sebagai CEO di Masjid kapal Munzalan sejak tahun 2013. Ilustrasi yang akan saya berikan adalah dalam bentuk data perkembangan aset Masjid Kapal Munzalan yang diolah oleh MASJID ENTERPRISE.

Namun data yang saya sampaikan ini bukanlah data konkrit, melainkan data yang bersifat perkiraan saja.

Ilustrasinya begini.

Pada tahun 2011 Gurunda H.M. Nur Hasan membangun Masjid Kapal Munzalan. Tahun 2012, masjid ini selesai dibangun. Saat itu, biaya yang dikeluarkan oleh Tok Ya kurang lebih Rp 1,5 milyar.

Biaya sebesar itu sudah termasuk untuk membeli sebuah rumah yang berada tepat di depan Masjid Kapal Munzalan yang dibeli atas sumbangan dari H.M. Rahman, sahabat bisnis Tok Ya.

Pada tahun 2012 akhir, Gurunda H.M. Nur Hasan meminta Gurunda Ustaz Luqmanulhakim untuk memimpin pengelolaan Masjid itu. Maka, mulai tahun 2013, Ustaz Luqmanulhakim telah berperan sebagai top eksekutif atau CEO di Masjid kecil di gang sempit yang berkapasitas 200an jamaah itu.

Pada tahun 2018, nilai aset di lingkungan Masjid Kapal Munzalan dihitung oleh Kantor Akuntan Publik. Saat itu, nilai aset yang dibukukan sekitar Rp 15 milyar.

Sementara pada tahun 2020, nilai aset Masjid Kapal Munzalan diperkirakan sekitar Rp 90 milyar. Angka 90 milyar itu sekedar perkiraan saja. Riilnya bisa lebih bisa kurang.

Cara menghitungnya adalah dengan menggunakan cara Bossman Mardigu saat menganalisis kinerja sebuah BUMN di fanpage beliau. Bosman Mardigu pernah mengatakan bahwa BUMN yang sehat itu mestinya bisa menghasilkan omzet atau pemasukan minimal setara dengan nilai asetnya. Kalau nilai aset BUM itu Rp 1 trilyun, maka omset pertahunnya minimal Rp 1 T. Begitu kata Bossman Mardigu.

Nah di masjid Kapal Munzalan, nilai asetnya pada tahun 2020 belum dihitung. Tapi dari seluruh lembaga dakwah yang berkegiatan di sekitar masjid Kapal Munzalan tiap bulannya menghasilkan omzet rata-rata sekitar Rp 7,5 milyar per bulan. Angka itu kalau dikalikan 12 bulan, ketemu di angka Rp 90 milyar.

Nah, dengan menggunakan metode Bosman Mardigu itu, kita asumsikan saja bahwa nilai aset Masjid Kapal Munzalan setara dengan nilai pemasukan dalam setahun, yaitu Rp 90 milyar.

Ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Late Post

Copyright © 2020 | Masjid Kapal Munzalan | Munzalan News