Kisah & Hikmah

Uwais Al Qarni dan Baktinya Terhadap Ibunya

Abang kakak yang dirahmati Allah, kisah dan hikmah kali ini datang dari sahabat Nabi yakni Uwais Al Qarni yang sangat berbakti kepada Ibunya.

Tentu abang kakak sudah tahu dong? Bahwa kita sebagai umat muslim diajarkan untuk berbakti kepada kedua orang kita, apalagi dalam Islam Ibu merupakan seseorang yang memiliki tempat sangat mulia. Seperti yang abang kakak pernah dengar, bahwa “Surga ada di telapak kaki Ibu”.

Oleh sebab itu, setiap anak diwajibkan berbakti kepada orang tuanya. Seorang anak tidak boleh membentak orang tua, apalagi durhaka kepadanya. Jika seorang anak durhaka kepada orang tuanya terutama ibu, maka Allah akan melaknat orang tersebut sampai dia meminta maaf kepada ibunya dan bertaubat kepada Allah.

Berbakti kepada orang tua telah diajarkan dan dicontohkan oleh umat islam terdahulu. Bahkan ketika seseorang berbakti kepada kedua orang tuanya, berarti telah berbakti pula kepada Allah dan Rasulnya.

Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda asal Yaman yang mempunyai penyakit sopak, penyakit kulit berupa belang-belang putih. Meski demikian, ada banyak sifat yang dapat diteladani umat Muslim dari sosoknya, terutama mengenai kasih sayang dan bakti kepada orangtua.

Bahkan, karena telah memuliakan ibunya, Uwais disebut Rasulullah SAW sebagai penghuni langit. Rasulullah bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, minta lah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” (HR. Ahmad)

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh sosok Uwais Al Qarni, berikut kisah lengkapnya yang dikutip dari buku Surga yang Terlupakan oleh Irsyadul Ibaad.

Menggendong Ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk Pergi Haji

Di Yaman, Uwais Al Qarni tinggal bersama ibunya yang sudah tua yang lumpuh. Uwais sangat menyayanginya dan senantiasa merawat serta memenuhi semua permintaan sang ibu. Hanya satu permintaan yang sulit ia penuhi, yaitu memberangkatkan ibunya pergi haji.

Uwais hanya lah seorang pemuda miskin yang tak mempunyai harta. Sementara perjalanan dari Yaman ke Mekkah sangat jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banayak perbekalan. Lantas, bagaimana Uwais melakukannya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya?

Uwais pun terus berpikir mencari jalan keluar demi memenuhi keinginan ibunya tersebut. Ia kemudian membeli seekor anak lembu dan membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik-turun bukit.

Uwais tak peduli meskipun banyak orang yang menganggap dirinya gila. Setiap hari ia menggendong lembu itu naik-turun bukit hingga semakin hari anak lembu itu semakin besar dan semakin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Namun, karena berlatih setiap hari, anak lembu yang membesar itu tidak terasa berat lagi baginya.

Berbulan-bulan berlalu, tiba lah pada musim haji. Lembu Uwais kini telah tumbuh besar, bahkan beratnya mencapai 100 kilogram. Begitu pula dengan Uwais yang semakin kuat karena latihan yang dijalaninya selama ini demi bisa menggendong sang ibu menuju Mekkah.

Tanpa kendaraan, tanpa bantuan apa pun dan hanya bermodalkan tenaga, Uwais dan ibunya berangkat ke Mekkah. Ia rela menempuh perjalanan yang amat jauh dan sulit demi memenuhi keinginan ibunda.

Sesampainya di Mekkah, dengan tegapnya Uwais menggendong sang ibu wukuf di Ka’bah. Di hadapan Ka’bah, Uwais berdoa agar Allah SWT mengampuni dosa ibunya.

Sang ibu pun bertanya bagaimana dengan dosa dirinya sendiri. Uwais pun menjawab, “Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari Ibu yang akan membawaku ke surga.”.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button