Kisah & Hikmah

GAK MASUK AKAL! sekolahnya gratis, tapi bisa bangun gedung sekolah senilai 4 milyar

Di Kabupaten Kubu Raya ada sebuah pesantren yang sangat unik. Nama pesantrennya Pesantren Nurul Jadid Pimpinan KH. Muid Cholil. Pesantren ini terletak di Desa Kumpai, Kecamatan Sungai Raya.

Pesantren Nurul Jadid telah belasan tahun menyelenggarakan aktivitas pendidikan bagi masyarakat. Dan yang menarik sekolah di pondok itu tidak dipungut biaya. Alias gratis!

Di Pesantren ini, semuanya ditanggung. Mulai dari makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, hingga biaya sekolah. Padahal sekolah ini bukan sekolah pemerintah, melainkan 100% sekolah swasta. Luar biasa!

Tak seperti lembaga pendidikan lainnya yang berupaya menyasar pasar masyarakat kelas menengah ke atas, demi menghindari telat bayar uang sekolah dsb, pesantren ini justru menyasar masyarakat kelas “bawah”, yaitu masyarakat yang tidak mampu. Jika ada calon santri yang berasal dari keluarga yang mampu, Pesantren Nurul Jadid tak akan menerimanya.

Pada saat mendampingi Gurunda Ustaz Luqmanulhakim mengunjungi pesantren itu hari Sabtu yang lalu, KH.Muid Cholil bercerita pada kami bahwa Pesantrennya baru saja menolak 60 orang calon santri. Alasanya karena ke 60 calon santri itu berasal dari keluarga “mampu”.

Beliau bercerita bahwa jumlah santri yang diterima tahun ini 170 orang, sementara yang mendaftar ada 230 orang. Artinya ada 60 orang yang tidak diterima. Karena penasaran, saya bertanya alasan KH.Muid Cholil menolak ke 60 orang calon santri itu, dan cukup kaget mendengarkan alasan Ustaz Muid bahwa setelah disurvei ke 60 calon santri itu dianggap orang tuanya memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi. Jadi pondok tak bisa menerimanya

Coba baca lagi jawaban Ustaz Muid itu. Calon santri itu ditolak karena setelah disurvei ternyata secara ekonomi tergolong orang “mampu”, disaat seluruh sekolah berlomba-lomba menaikan citranya demi bisa menjangkau masyarakat ekonomi kelas atas, Pesantren ini justru menolaknya.  Lalu mungkin para sahabat menduga bahwa Pesantren itu pastilah menghidupi dirinya dengan proposal bantuan, minta sumbangan kemana-mana dengan menjual kesedihan para santri yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Jika ada yang menduga demikian, dugaan tersebut salah. Pesantren Nurul Jadid telah menjadi Mitra dari Masjid Kapal Munzalan selama lebih dari 6 tahun, dan selama itu, tak pernah menyaksikan Ustaz Muid pernah mengedarkan proposal sama sekali, apalagi dengan cara mengedarkan proposal sumbangan dari rumah-ke rumah.

Lantas dari mana Pesantren itu membiayai operasional sekolahnya?

Jawabannya, macam-macam. Diantaranya dari usaha dan waqaf!

Selama ini ustaz Muid mengajak santri-santri seniornya untuk mengelola usaha perdagangan dan peternakan kambing. Sebagian besar hasil usahanya digunakan untuk membiayai operasional pesantren yang beliau kelola. Lalu tentang bagaimana Pesantren ini mengelola waqaf, lain waktu akan kita bahas dalam kesempatan lain. Insyaallah.

Kalau ada yang berprasangka karena gratis mungkin saja tempatnya tak layak atau reot, maka prasangkanya salah lagi, karena Ustad Muid baru saja selesai membangun gedung 2 lantai senilai Rp 4 milyar lebih.

“Gak, masuk akal!”

Iya, di dunia ini banyak hal yang tak masuk akal, tapi seringkali yang tak masuk akal itu benar-benar terjadi di depan mata kita. Maka, sekarang ini sangat berhati-hati jika menyaksikan realitas yang tak masuk akal. Karena sesuatu yang kita anggap tak masuk akal itu bisa jadi karena sebab “akal kita terlalu kecil untuk menangkap hal-hal yang lebih besar”.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button