Berita Baik

TEPUNG ROTI TULANG BABI

Beberapa hari yang lalu, Masjid Kapal Munzalan kedatangan tamu istimewa dari Pulau Dewata, Bali. Namanya Pak Yanto. Beliau adalah pakar dalam bidang roti-rotian. Pengetahuan beliau dalam pengolahan roti-rotian sangat mendalam, karena puluhan tahun bekerja sebagai konsultan, trainer dan praktisi dalam bidang itu.

Beliau sempat belajar dalam bidang roti-rotian hingga di luar negeri, seperti di Swiss dan di Swedia. Belajarnya bukan hanya sehari-dua hari. Tapi bertahun-tahun lamanya. Warbiyassah!

Pak Yanto sengaja terbang dari Bali ke Pontianak karena diajak oleh sahabatnya, Mas Zeriko Novendro Pala, Anggota Pasukan Amal Sholeh (Paskas) Jogja.

Pak Yanto dimintai bantuan oleh Mas Zeriko untuk membantu teman-teman Masjid Kapal Munzalan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas salah satu unit usaha Masjid yang bergerak dalam bidang roti-rotian.

Selama di Pontianak, saya diperintahkan oleh Gurunda Ustaz Luqmanulhakim untuk menemani beliau. Dalam sebuah sessi ngopi bareng, Pak Yanto membahas sebuah materi tausiyah yang disampaikan oleh Gurunda Ustaz Luqmanulhakim tentang bahaya makanan haram bagi kaum muslimin di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan fenomena makanan yang menggunakan bahan-bahan berbasis babi.

Dalam sessi ngopi itu, Pak Yanto membenarkan kekhawatiran Gurunda Ustaz Luqmanulhakim. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan bahan-bahan berbasis daging babi itu sudah menjadi fenomena umum bagi para pengusaha kuliner di Indonesia. Bahan-bahan berbasis daging babi itu digunakan oleh para pengusaha itu dalam rangka untuk meningkatkan citra rasa produk.

“Dalam dunia bakery dan pastery, para pengusaha sering menggunakan tepung yang berasal dari tulang babi, Bung Ben!”, jelas Pak Yanto kepada saya.

“Tulang Babi?”, tanya saya heran.

“Iya tulang babi. Tulang babi yang dijadikan tepung. Roti yang menggunakan tepung tulang babi itu akan membuat kue menjadi lebih empuk dan lebih gurih. Tepung itu dapat berfungsi pula menjadi perekat bagi bahan-bahan adonan dalam pengolahan makanan. Dalam dunia industri salah satu bahannya dikenal dengan nama gelatin”, jelas Pak Yanto.

“Masyaallah. Trus bagaimana?!”, respon saya.

“Iya kita harus waspada. Kita harus lebih berhati-hati. Terlebih jika produk roti itu tak ada sertifikasi halalnya!”, jelas Pak Yanto lagi.

Masyaallah! Ngeri ya!

Saya jadi teringat salah satu materi tausiyah Gurunda Ustaz Luqmanulhakim yang membahas tentang tertolaknya doa dari hamba Allah karena mengkonsumsi makanan yang dilarang oleh Allah.

Terlintas pula ingatan tentang teori DNA babi yang menyerupai DNA manusia dan hipotesis ilmiah yang mengatakan bahwa karakter manusia dapat dipengaruhi oleh apa yang ia makan. Termasuklah tentang fenomena penyimpangan seksual yang sedang mendera generasi muda kita.

Teori penyimpangan orientasi seksual yang menyukai sesama jenis dan hubungannya dengan makanan yang mengandung babi itu, sempat saya tanyakan kebenarannya dengan Pak Yanto.

Pak Yanto membenarkan teori itu. Beliau menjawab begini:

“Bisa jadi! Karena salah satu perilaku seksual hewan babi memang menyukai sesama jenis!”

ditulis oleh
Beni Sulastiyo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button