Berita Baik

BERISI, BERAS UNTUK SANTRI GIB-JOGJA dan ACT JOGJA

Berkibar-kibar semangat saat berada di tengah nyala juang penuh ikhlas sahabat-sahabat Paskas Jogja yang menyelenggarakan kegiatan sosialisasi program Beras untuk Santri Indonesia atau BERISI. Bahagia jiwa rasanya.

BERISI adalah program kerjasama antara Gerakan Infak Beras (GIB) Jogja dan ACT jogja untuk menyalurkan beras terbaik bagi santri di sekitar wilayah Jogjakarta. Lewat kerjasama ini, jumlah beras terbaik yang akan dinikmati secara gratis oleh setiap santri di wilayah jogja setiap bulannya mencapai lebih dari 26 ton.

Sementara, jumlah santri penerima manfaat dari sahabat-sahabat GIB-Jogja yang dikoordinir oleh Mas Sasongko, Mas Ferry, Mas Wawan, dkk ini telah menyentuh lebih dari 5000 santri. Masyaallah.

Bagi para pengelola pondok pesantren, beras adalah persoalan besar. Terlebih bagi para pengelola pesantren yang tidak memungut biaya pendidikan dari para santrinya.

Sebuah pesantren yang memiliki santri dan pengelola sebanyak 200 orang misalnya, memerlukan beras sekitar 1400 kg beras setiap bulannya. Dan apabila harga sekilo beras Rp 10 rb, maka para pengelola harus menyediakan uang untuk membeli beras sekitar Rp 14 juta setiap bulan.

Bagi sebuah pondok pesantren, biaya sebesar itu sangatlah besar. Dan menjadi persoalan yang sering memusingkan kepala. Tapi beras itu harus ada! Tanpa uang untuk membayar gaji, mungkin para guru akan tetap bisa ikhlas mengajar para santri. Tapi tanpa beras, aktivitas belajar-mengajar bisa bermasalah.

Sementara untuk menyediakan dana demi membeli kebutuhan beras, bukanlah persoalan mudah bagi para pengelola pondok pesantren. Terlebih bagi pesantren jumlah santrinya banyak.

Sangat banyak kasus yang memprihatinkan terkait dengan persoalan pemenuhan kebutuhan beras untuk para santri ini. Para pengelola pesantren seringkali terpaksa harus menyediakan beras dengan kualitas tak layak demi menekan biaya agar bisa memenuhi kebutuhan makan seluruh santrinya.

Bahkan dibanyak pesantren sering  ditemukan kasus, para santri terpaksa harus mengkunsumsi beras yang telah rusak oleh jamur dan ulat, karena uang yang dimiliki untuk membeli beras yang berkualitas tidak mencukupi. Masyaallah!

Kondisi yang memperihatinkan seperti inilah yang memicu munculnya ide dari Gurunda Ustadz Luqmanulhakim untuk membuat program Gerakan Infaq Beras di Kota Pontianak pada tahun 2012. Gerakan ini kemudian menyebar di hampir seluruh Kabupaten/Kota di KALBAR dan menyebar di puluhan kota di Indonesia.

Gerakan yang tahun 2012 hanya dapat membantu 5-6 pesantren dan panti asuhan di Pontianak itu, saat ini telah berkembang hingga menyentuh lebih dari 1500 pesantren dan panti asuhan di seluruh Indonesia. Gerakan yang awalnya hanya dapat membantu 100-200 santri saja itu, kini telah mampu menyentuh tak kurang dari 100.000 santri di seluruh Indonesia. Tidak hanya sampai disitu saja.

Gerakan yang awalnya dirintis oleh 3-4 orang sahabat terdekat Gurunda Ustadz Luqmanulhakim ini, sekarang telah memiliki relawan tidak kurang dari 2000 orang di seluruh Indonesia yang tergabung dalam PASKAS (Pasukan Amal Shaleh).

“Insyaallah dengan kolaborasi antara ACT dan GIB Jogja dengan Anggota Paskasnya yang luar biasa lewat program BERISI ini, jumlah beras yang dapat disalurkan oleh para santri akan semakin besar”, demikian penjelasan dari Gurunda Ustadz Luqmanulhakim pada saat acara sosialisasi Program BERISI yang diselenggarakan oleh GIB Jogja dan ACT Jogja Ahad malam kemarin di Hotel Ross In Jogja.

Gurunda Ustadz Luqmanulhakim menambahkan, kolaborasi antara GIB dan ACT dalam hal penyaluran bantuan beras untuk santri dan anak yatim ini akan diikuti pula di cabang-cabang GIB daerah-daerah lainnya, dari Aceh sampai Papua.

“Mohon doanya dari seluruh santri, Para Kyai, para Usatidz, orang tua asuh, dan seluruh anggota PSKAS indonesia, semoga Allah berkenan meridhoi niat baik kita semua”, harap Gurunda.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button